“CIRI-CIRI GANGGUAN MENTAL”

Banyak hal yang dapat kita pelajari dan amati dari bagaimana cara menyimpulkan bahwa seseorang telah mengalami gangguan mental maupun ketidakwajaran dalam tingkah laku serta kehidupan. Menurut beberapa kalangan gangguan mental adalah istilah awam untuk merujuk pada berbagai macam perilaku menyimpang seseorang yang seringkali juga disebut sebagai perilaku abnormal
Seseorang bisa dikatakan mengalami gangguan mental apabila:
a. tingkah lakunya tidak sesuai dengan pola kehidupan masyarakat pada umumnya, semua itu dikarenakan obsesi terhadap suatu keadaan yang ingin dicapainya. Sebagai contoh dapat kita perhatikan bagaimana seorang beradab rela mentato sekujur tubuhya dengan pola macan tutul hanya demi memuaskan hasrat keinginannya untuk bisa hidup layaknya macan
b. mempunyai tingkat kreatifitas luar biasa tinggi yang membuat masyarakat di sekitarnya tidak bisa memahami dan mengerti jalan pikirannya, sehingga seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
c. Sering bahkan selalu melakukan kegiatan maupun membicarakan hal yang tidak bisa dicapainya serta menganggap dirinya telah berhasil menjadi apa yang diimpikan. Hal ini dibarengi dengan sikap pemberontakan jika ada yang mengingatkan dan membicarakan tentang kegagalannya.
Dari ketiga ciri utama diatas dapat kita simpulkan bahwa kata gangguan mental tidak hanya dipakai untuk mendefinisikan suatu penyakit penyempitan nadi otak reptile saja, namun lebih dari itu kata gangguan mental juga disematkan kepada suatu kebiasaan dan prilaku yang dianggap menyimpang dari tatanan kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, dari ketiga ciri tersebut poin c menjadi fokus utama penanggulangan oleh dunia medis dan masyarakat kita saat ini, mengingat proses penyempitan ini sudah jelas merupakan suatu penyakit, sedangkat poin a dan b hanyalah suatu pola pikir serta kemampuan otak yang berbeda dari kebanyakan orang
Seorang psikolog bernama Linda De Clerq dalam bukunya Tingkah Laku Abnormal dari Sudut Pandang Perkembangan (1994), menunjukkan empat kriteria yang bisa dipakai untuk memilah suatu kegangguan mentalan:
Pertama, penyimpangan dari norma statistik, di mana yang dijadikan ukuran adalah apakah perilaku seseorang itu menyimpang dari kebanyakan orang pada umumnya. Contohnya adalah apabila IQ rata-rata kebanyakan orang adalah 100, maka mereka yang mempunyai IQ di bawah 100 termasuk dalam kategori tidak normal. Di sini patokannya adalah frekuensi statistik.
Kedua, penyimpangan dari norma sosial. Yang dijadikan dasar dalam kriteria ini adalah norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dalam masyarakat yang memiliki norma sosial bahwa orang harus menggunakan tangan kanan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, orang yang menggunakan tangan kirinya akan dianggap tidak normal. Patokan ini tentunya sangat bergantung pada masyarakat tertentu. Hal ini pernah dialami oleh Rasulullah SAW dalam usaha beliau menyebarkan agama Islam kepada kalangan kafir Quraisy, sehingga Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi
مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ۬ لَّكُم بَيۡنَ يَدَىۡ عَذَابٍ۬ شَدِيدٍ۬
tidak ada penyakit gila sedikit pun pada Muhammad (kawanmu itu). Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (kaum kafir menghadapi) adzab yang keras(Q.S 34:46)
Ketiga, ketidakmampuan adaptasi tingkah laku. Perilaku dianggap ‘maladaptive’ dan menyusahkan bila menganggu individu yang lain atau masyarakat. Ini tentunya berkaitan erat dengan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat yang lazim disebut autis. Hal ini berdasarkan dari hasil perdebatan ilmiah American Psychiatric Association (APA) yang menghasilkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), yang di Indonesia dikenal dengan Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa, yang pada perjalanannya terus mengalami perbaikan materi sehingga saat ini dikenal dengan sebutan DSM-IV. Pedoman ini merupakan panduan bagi psikiater dan peneliti di seluruh dunia untuk membuat diagnosa yang akurat dan obyektif tentang penyakit jiwa. DSM-IV membantu untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan berbagai macam gangguan jiwa yang jumlahnya lebih dari 300 macam. Selain DSM, ada juga sistem klasifikasi lain yaitu International Classification of Diseases (ICD) yang diterbitkan oleh WHO (World Health Organization), badan kesehatan di bawah PBB.
Namun demikian banyak diantara psikolog dunia yang tidak setuju bahkan menganggap kedua pedoman tersebut tidak memiliki dasar landasan yang kuat serta terkesan menggampangkan diagnosis.
Dalam hal ini, Tine van Schijndel-Jehoel seorang orthopedagog peserta program doktor neuropsikologi klinik dari Universitas Tilburg – Belanda menulis sebuah artiker yang berjudul: Brein bedriegt: als een autisme spectrum stoornis geen autisme is (Otak yang menipu: jika autisme spectrum disorder ternyata bukan autisme) yang merupakan bagian dari pendidikan doktornya, yang ditampilkan di sebuah majalah autisme ilmiah Wetenschapplijk Tijdschrift Autisme, edisi Agustus 2005,. Ia menjelaskan bahwa:
1) DSM IV adalah kelanjutan dari DSM III, dan ICD 10 adalah kelanjutan dari ICD 9;
2) dalam kriteria itu baik DSM IV maupun ICD 10, yang diambil dari DSM III & ICD 9, adalah prototip sistem klasifikasi bahwa: seorang anak dapat didiagnosa berdasarkan kumpulan gejala tertentu, tanpa harus memenuhi seluruh kriteria yang ada;
3) kumpulan gejala itu tak ada penjelasan latar belakang penyebab dan mengapa gejala itu bisa terjadi;
4) kriteria itu tidak pernah melalui upaya-upaya berbagai penelitian guna mendukung akurasi kriteria;
5) ketiga faktor yang menjadi dasar diagnosa (gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan perilaku repetitif dan stereotipik) tidak diberi definisi secara jelas.
Akibat dari kriteria yang digunakan itulah yang pada akhirnya menjadi penyebab banyaknya anak-anak dengan bermacam-macam pola gejala mendapatkan diagnosa yang sama, yaitu autisme, yang dengan catatan sebetulnya sangat beragam (heterogen). Dengan alasan heterogenitas dan kesulitan menentukan letak setiap anak yang menerima diagnosa itu dalam sebuah spektrum yang panjang, akhirnya digunakanlah istilah Autism Spectrum Disorder (ASD). Menurutnya, para ilmuwan saat melakukan penelitian seringkali juga menjadikan Autism Spectrum Disorder (ASD) sebagai satu objek grup penelitian yang dianggap homogen. Artinya bahwa perkembangan kognitif neuropsikologi anak didiagnosa melalui kumpulan gejala tanpa memperhatikan perbedaan penyebab dari setiap kelompok dalam spektrum tersebut. Dalam menangkap tanda-tanda gangguan autisme ini, gejala perilakulah yang menjadi sasaran, maka berbagai gejala perilaku akan terjebak masuk ke dalam perilaku menyimpang, tanpa memperhatikan lagi apakah seorang anak mempunyai performa atau kinerja yang baik, mempunyai potensi, mempunyai prinsip yang kuat, dan dapat menunjukkan perilaku sosial yang baik.
Ke empat, penderitaan pribadi. Dalam kriteria ini perasaan subyektif atau tanggapan subyektif dijadikan ukuran untuk menilai kenormalan atau keabnormalan seseorang. Dibandingkan dengan kriteria-kriteria ini sangatlah liberal karena memungkinkan seseorang untuk menilai apakah dia normal atau tidak.
Dari berbagai sudut pandang yang ada, suatu gangguan mental tidak hanya terbatas pada kemampuan berpikir maupun gangguan kinerja otak, lebih dari itu seseorang dikatakan mengalami gangguan mental jika dianggap telah melewati batas normal kewajaran atau bisa dikatakan bahwa opini masyarakatlah yang menentukan tingkat kewarasan seseorang.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: